Tentang Saya

Nama lengkapku SOFYAN SJAF, biasa dipanggil SOFYAN atau SJAF.  Saya lahir di kota kecil bernama KENDARI pada tanggal 3 Oktober 1978 dan berasal dari keluarga kecil.  Almarhum ayahku seorang PNS dan ibuku seorang wiraswasta.  Semenjak kecil, kedua orang tuaku selalu mendoktrinku untuk empati dan setia membantu orang kecil.  Tentunya doktrin ini sangat beralasan karena kami adalah orang kecil. Aku selalu teringat dengan petuah sang Ibuku, “Belajarlah ke orang kecil, maka engkau akan pandai melihat ke bawah suatu saat”.

Menjadi orang kecil tidaklah mudah, ia selalu diasingkan, disisihkan, dan dilupakan.  Inilah yang pernah kurasakan sewaktu SMP.  Meski banyak orang kecil yang berprestasi, namun prestasi itu tak berarti.  Kuyakini bahwa rezim orde baru telah menciptakan jurang “si Besar” dan “si Kecil” saat itu.

Meski demikian, menjadi orang kecil yang merdeka itu asyik.  Kita dipaksa untuk membangun mimpi di luar kondisi nyata kita, kita dipaksa untuk berfikir dan berikhtiar keras, kita dipaksa untuk berjuang meraih mimpi-mimpi kita, dan kita dipaksa untuk selalu sabar dan ikhlas. Sehingga tidak salah jika orang kecil yang merdeka dapat menjadi orang besar yang merdeka, bukan yang tertindas. Sloganku “Miskin-Merdeka Lebih Baik, Daripada Kaya-Tertindas”.

KENDARI adalah kota kecil yang membentuk karakter dan impianku.  Di kota kecil ini, saya menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah atas.  Kenekatanku untuk merantau ke Bogor pada tahun 1996 merupakan konsistensi bentukan karakter orang tuaku yang selalu mengatakan “pendidikan dapat merubah nasib orang kecil”.

Bogor memperkenalkanku banyak hal tentang dunia pendidikan dan pergerakan.  Setamat S1 FAPET IPB pada tahun 2000, saya sempat bekerja di dunia pers dan dunia swasta.  Suatu dunia kerja yang saling bertolak belakang dan memberikanku kesan pergulatan pemikiran tersendiri.

Merasa belum banyak berarti untuk orang kecil, kulanjutkan studi S2 pada program studi Sosiologi Pedesaan dan selesai di awal tahun 2006 .   Keputusan melanjutkan studi dilatarbelakangi bahwa struktur Indonesia “memaksa”ku  untuk mengambil peran spesifik untuk membantu orang kecil.  Saya menganggap peran dunia intelektual (khususnya kampus) masih relatif minim kontribusi bagi orang kecil.  Dengan nilai “tirakatisme” akhirnya studi S2 dapat kuselesaikan diawal tahun 2006.

Sewaktu sekolah dan sebelum menempuh studi S3, tidak sedikit saya bersentuhan dengan realitas sosial yang sesungguhnya.  Riset, pendampingan, dan silaturahim adalah instrumenku untuk mengenal dimensi sisi-sisi kehidupan orang kecil.  Meski terasa masih minim membantu orang kecil, namun aktivitasku sebagai staf pengajar (dosen) di  Departemen Sains KPM FEMA IPB kuyakini mampu menjadi instrumen  ampuh untuk mendorong kesejahteraan orang kecil.  Setidaknya, inspirasi menulis berbagai makalah tentang teman-tema sosial dan artikel opini dibeberapa koran harian nasional , sesungguhyna lahir dari orang kecil.

Tak dapat kupungkiri bahwa orang kecil telah memperkenalkanku dengan kebiasaan membaca, menulis, diskusi, dan berteman sehingga mendorongku untuk menulis buku.  Saat ini, tiga buku yang telah diterbit dari sentuhan tanganku, yakni: (1)  Dari Kandang Memandang Dunia (editor); (2) Struktur Usaha Broiler di Indonesia (penulis); dan (3) Potret Kedaulatan Pangan Mamasa (penulis).  Ketiga buku ini tersirat bahwa “perlawanan kecil dari orang kecil akan mampu merubah wajah dunia”…Amiin

Salam,

Sofyan Sjaf

No Comments yet, be the first to reply

Leave a Reply