Food Estate dan Petakanya

Posted by sofyansjaf - 07/06/2010

Oleh:

Sofyan Sjaf

Bagi petani kecil, berharap lepas dari kesenggaraan adalah utopis. Namun tidak bagi perusahaan pangan.  Penumpukan kapital adalah keniscayaan selama lima tahun ke depan.  Inilah kebijakan food estate yang paradoks dan menjadi andalan Mentan Suswono.

Meski menuai kritik tajam, namun pemerintah tetap bersemangat melegalkan food estate melalui peraturan pemerintah yang akan terbit akhir bulan ini. Selain tujuan swasembada dan ketahanan pangan, memberikan kepastian tentang aturan investasi usaha dalam skala besar merupakan tujuan utama food estate. Sangat ironi, karena usaha tani skala kecil tidak pernah memperoleh kepastian hukum bahkan sentuhan arif dari penguasa.

Petaka

Food estate adalah pengembangan produksi tanaman pangan berskala luas. Definisi ini dengan tegas menunjukkan bahwa kultur bertani ala food estate hanya diperuntukkan bagi pemilik kapital atau perusahaan besar.  Ini bertolak belakang dengan kultur bertani ala rakyat, dimana rumah tangga-rumah tangga petani menjadi basis produksi. Dengan demikian, jika food estate terealisasi, maka Mentan Suswono adalah aktor neolib dan bertanggungjawab akibat dari terjadinya perubahan cara produksi pertanian dari rumah tangga (family based agriculture) menjadi perusahaan (coorperate based agriculture).

Perubahan cara produksi yang diakibatkan food estate, secara sosiologis mendorong terjadinya petaka di sektor pertanian. Pertama, “matinya” petani kecil. Ini dimulai dari proses teralienasinya petani kecil dari kultur bertaninya. Setelah teralienasi, maka petani kecil mengalami kesengsaraan hidup. Jika kesengsaraan melekat dengan hidup petani, maka kemiskinan akan terus bertambah dan kematian adalah jalan yang tak dapat dihindari petani kecil.  Ancaman ini akan dialami 28 juta rumah tangga petani.

Kedua, hilangnya hutan dan nilai-nilai masyarakat. Kebutuhan lahan yang sangat luas adalah keniscayaan bagi food estate. Dengan demikian, mutlak terjadi konversi hutan ke lahan pertanian dalam jumlah yang besar.  Jika ini terjadi, maka Mentan Suswono dengan food estate-nya melakukan pelanggaran hak azasi petani yang sudah lama bermukim dan berinteraksi dengan hutan dan ekologinya; dan ketiga, kerusakan lingkungan. Keserakahan akan lahan yang luas untuk food estate, berkontribusi terhadap terjadinya perubahan iklim dan akhirnya mempercepat terjadinya kerusakan lingkungan.

Jalan Alternatif

Jika penguasa hari ini mempunyai food estate dengan dukungan perusahaan besar, maka petani kecil dan kaum anti neolib mempunyai agroekologi sebagai jalan alternatif cara produksi yang berpihak pada petani kecil dengan dukungan gerakan sosial pedesaan.

Agroekologi adalah anti-thesa dari food estate. Agroekologi merupakan sistem pertanian berkelanjutan yang menitikberatkan pada kekuatan sumberdaya lokal yang dimiliki petani dan mengurangi penggunaan input luar. Berbeda dengan sistem pertanian kapitalis, sistem pertanian ini memiliki tingkat sosial yang tinggi dan aset manusia yang mampu berinovasi menghadapi ketidakpastian, seperti perubahan iklim atau perubahan kebutuhan masyarakat untuk produk-produk tertentu. Oleh karenanya, pertanian berkelanjutan menyiratkan kebutuhan untuk menyesuaikan faktor-faktor produksi yang ada disetiap lokalitas.

Meski demikian, agroekologi sebagai sistem pertanian tidak akan mampu melawan sistem pertanian neolib, jika tidak dibarengi dengan gerakan sosial pedesaan. Gerakan-gerakan sosial yang merangkul konsep kedaulatan pangan dan berfokus pada otonomi lokal, pasar lokal, siklus lokal produksi-konsumsi, kedaulatan energi dan teknologi, serta petani sebagai jaringan.

Gerakan sosial pedesaan bertujuan membongkar agrifood industri yang kompleks dan memulihkan kembali sistem pangan lokal disertai agroekologi pembangunan alternatif yang sesuai dengan kebutuhan produsen skala kecil dan berpenghasilan rendah, serta menentang kontrol perusahaan produksi dan konsumsi. Dengan demikian, diperlukan koalisi yang cepat mengembangkan pertanian berkelanjutan di kalangan petani, organisasi-organisasi masyarakat sipil (termasuk konsumen), serta penelitian yang relevan dan diperlukan oleh para petani.

In:
No Comments yet, be the first to reply

Leave a Reply